Jakarta, MNID. Rencana Presiden Prabowo Subianto membangun Sekolah Rakyat dikritik oleh sahabatnya, Arief Poyuono. Istilah Sekolah Rakyat yang digunakan Prabowo, menurut Arief Poyuono, bernuansa inlander seperti di era kolonial Belanda.
Arief Poyuono mengingatkan, istilah Sekolah Rakyat diciptakan Belanda untuk memisahkan anak-anak dari kalangan jelata dengan kalangan ningrat yang bekerja untuk kepentingan Belanda.
Ketika memberikan pengarahan dalam Rapat Kabinet Merah Putih, Jumat, 21 Oktober 2025, Prabowo mengatakan, pemerintah akan membangun 200 Sekolah Rakyat berasrama. Setiap sekolah dapat menampung sekitar 1.000 siswa.
“Sekolah Rakyat kok kayak sekolah inlander di era penjajahan Belanda ya. Kok pemerintah masih membuat pengkelasan terhadap rakyat Indonesia terutama anak-anak rakyat yang ekonominya kurang mampu ya,” ujar Arief Poyuono yang pernah menjadi Wakil Ketua Gerindra.
Arief Poyuono yang juga Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu bertanya, kenapa Prabowo tidak menggunakan istilah Sekolah Instruksi Presiden atau Sekolah Inpres seperti di masa lalu.
“Aku juga sekolah di Sekolah Inpres dulu, dan tidak merasa sebagai rakyat yang dibedakan di tengah masyarakat walau aku bukan dari keluarga yang ekonominya mampu,” kata Arief Poyuono lagi.
Dia menjelaskan ketika masih kecil dia bersekolah di SD Inpres 08 Pagi, Rawa Badak, Jakarta Utara. Kepada guru yang bertanya apa cita-citanya, kata Arief Poyuono lagi, dia menjawab ingin menjadi presiden seperti Presiden Sukarno dan Presiden Suharto.
Di SD Inpres itu, Arief Poyuono diajarkan untuk bergaul dengan teman-temannya yang memiliki latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda.
“Tolong Presiden Prabowo, jangan Anda membuat pengkelasan di masyarakat,” demikian Arief Poyuono.